Info
Celebrity
Ini yang Terjadi Bila Bumi Berhenti Berputar
Kamis, 19 Juni 2014
Tahun 2200, bumi diprediksi bakal 'tenggelam'
Senin, 16 Desember 2013
Para ilmuwan kini menyatakan bahwa air laut tidak akan berhenti untuk terus naik antara 25-30 kaki, itu artinya permukaan air akan bertambah sekitar 9 meter.
Bayangkan, apa yang terjadi jika bumi 'dikepung' oleh permukaan air setinggi 9 meter?
Terlebih lagi, ada kecenderungan penurunan posisi tanah di bumi seiring dengan terus bertambahnya jumlah penduduk. Dengan demikian, potensi banjir besar kemungkinan akan meningkat beberapa kali lipat dari sekarang hingga tahun 2200.
Menurut para peneliti, hal tersebut diprediksi akibat meningkatnya suhu, bahkan 10 kali lipat lebih cepat dari prediksi karena semakin menipisnya atmosfer dan pemanasan global atau global warming. Dikhawatirkan, tidak akan ada lagi daerah kutub di bumi ini. Mungkinkah akan terjadi kembali hancurnya es yang akan menenggelamkan sebagian tanah di planet ini seperti dahulu?
Bahkan seorang ilmuwan iklim bernama Eelco Rohling dari Australian national University, Canberra, mengatakan bisa saja hal buruk akan terulang.
"Ini seperti membangunkan 'raksasa' yang sedang tertidur," ujarnya saat dilansir NBC News (15/12).
Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/tahun-2200-bumi-diprediksi-bakal-tenggelam.html
Peradaban dunia akan lenyap bila pecah perang India-Pakistan
Menurut sebuah penelitian dari kelompok anti-nuklir memprediksikan bahwa apabila terjadi perang antara India dan Pakistan maka dapat dikatakan juga sebagai akhir dari peradaban di bumi.
Hal ini disebabkan oleh kekuatan kedua negara yang sama-sama memiliki senjata berhulu ledak nuklir yang siap diluncurkan kapan saja. Akan ada sekitar 2 miliar orang di bumi akan mati apabila perang kedua negara tersebut pecah.
Dikutip dari IB Times (10/12), The International Physicians for the Prevention of Nuclear War and Physicians for Social Responsibility (PSR) memastikan bahwa yang akan terkena imbas pertama adalah rakyat di China karena jaraknya yang dekat dengan dua negara tersebut.
Selain menggunakan senjata berhulu ledak nuklir berjumlah banyak dengan tingkat radiasi tinggi, senjata pemusnah massal lainnya juga diperkirakan akan digunakan.
Ketika senjata-senjata diluncurkan, maka secara otomatis akan ada partikel karbon aerosol yang akan beterbangan ke udara dan tertiup angin sampai ke negara-negara lain. Dari situlah bencana berawal.
Tidak hanya itu saja, menurut catatan CNN, setidaknya ada sekitar 17 ribu senjata berhulu ledak nuklir yang ada di dunia ini. Mayoritas dimiliki oleh Amerika Serikat dan Rusia, sedangkan India dan Pakistan diperkirakan memiliki sekitar 100 buah saja.
Walaupun hanya 100, apabila semuanya diluncurkan, maka jangkauan ledak, radiasi serta efek dari nuklir tersebut akan menerpa dan menyapu banyak manusia. Diperkirakan apabila pecah perang maka lebih dari 20 juta orang akan meninggal dalam jangka waktu seminggu saja.
Dan, apabila pecah perang, secara otomatis akan memantik reaksi dari negara-negara lain yang terkena imbas, bahkan diperkirakan akan lahir perang dunia ketiga.
Oleh karenanya, kekhawatiran para peneliti cukup beralasan dan pertikaian antara dua kubu tersebut wajib diwaspadai.
Sumber: http://www.merdeka.com/teknologi/peradaban-dunia-akan-lenyap-bila-pecah-perang-india-pakistan.html
Gambaran Kiamat menurut majalah Popular Science 1939
Jumat, 05 April 2013
Berdasarkan prediksi sejumlah ilmuwan pada masa itu, akhir kehidupan dunia bukan hanya dikarenakan kondisi panas atau dingin yang ekstrem, tapi juga mungkin disebabkan oleh ledakan Matahari, bulan, dan hujaman meteor raksasa.
Arsip majalah Popular Science edisi September 1939 bertajuk 'How Will the World End?' sudah memvisualisasikan proses kiamat dengan ilustrasi kehancuran Bumi. Bersamaan dengan ilustrasi itu, majalah terbitan Amerika Serikat ini juga menyertakan tiga artikel.
Skema pertama menggambarkan ribuan orang di Manhattan berlarian karena serangan meteor ke kota. Tapi, para penduduk itu tak sempat menyelamatkan diri karena asteroid seukuran kota berkecepatan satu nanodetik kadung meluluhlantakkan seisi kota.
"Orang-orang yang terhindar serangan itu masih akan terancam, tidak hanya oleh gempa Bumi yang mengerikan, tetapi juga ledakan udara berkecepatan badai membakar permukaan yang bergerak cepat dari titik ledak," tulis Popular Science itu.
Kemudian, Popsci melansir, 5 April 2013, skema lain yaitu ledakan bintang. Disebutkan sewaktu-waktu bintang bisa menjadi nova (ledakan bintang) atau kecerahan misterius yang berkobar.
Jika Matahari tiba-tiba meniupkan gumpalan cairannya, dalam delapan menit ledakan singkat dari panas radiasi akan sampai ke Bumi dan kehidupan di Bumi lenyap seketika.
Skema lain, adalah ketika Matahari telah menjadi bola kusam dan hanya cahaya kemerahan yang menutupi Bumi. Dalam kondisi ini, manusia masih dapat hidup di daerah khatulistiwa maupun di bawah tanah, tempat yang relatif hangat.
Tapi, saat cahaya matahari berkurang, atmosfer Bumi berubah menjadi udara cair, dan sangat tidak mungkin ada kehidupan tanpa adanya atmosfer.
Jika Bumi berhasil menghindari ledakan Matahari dan meteor raksasa, tantangan berikutnya adalah bulan bumi.
Dikatakan, karena orbit bulan melambat, Bumi akan menarik bulan semakin dekat. Kondisi ini menyebabkan gelombang pasang raksasa juga ledakan inti Bumi yang memuntahkan lava dalam volume sangat besar.
Tak sampai di situ, bulan diperkirakan akan meledak dalam bentuk bebatuan, menghujani Bumi dalam bentuk meteor, dan membinasakan kehidupan dalam waktu singkat. (sj)
Sumber: http://teknologi.news.viva.co.id/news/read/402966-ini-gambaran-kiamat-di-tahun-1939
Ini Korban Perubahan Iklim Pertama di Australia
Selasa, 26 Maret 2013
Seperti dikutip dari FZ,tupai kecil yang hidup di Australia mungkin sudah menjadi korban pertama perubahan iklim di Benua Kangguru tersebut.
Para peneliti mengatakan bahwa kenaikan satu derajat celsius suhu saja sudah bisa berakibat fatal bagi para tupai-tupai kecil di Australia dalam kurun waktu 10 tahun ke depan.
Tupai jenis Mountain Pygmy Possums menjadi bagian dari ekosistem di Australia sejak 25 juta tahun terakhir. Namun hanya dua ribu hingga 2.600 ekor saja yang bisa tetap bertahan hidup di pegunungan Snowy Mountains, yang membentang di sepanjang New South Wales dan Victoria.
"Ada banyak faktor perubahan temperatur yang dapat mengakibatkan hal fatal bagi lingkungan hidup tupai," ujar Michael Archer, paleontolog dan ahli lingkungan hidup dari University of New South Wales.
Tupai-tupai kecil Mountain Pygmy Possums berhibernasi di bebatuan selama enam bulan dalam setahun, ketika salju menyelimuti wilayah tersebut. [ikh]
sumber: http://teknologi.inilah.com/read/detail/1971531/ini-korban-perubahan-iklim-pertama-di-australia#.UVGckjfOQ7s
Dinosaurus musnah oleh komet, bukan asteroid
Samudra Baru akan Belah Afrika
Sabtu, 17 Juli 2010
Mereka menyaksikan rekahan bumi sepanjang 60 kilometer di kawasan Afar, sebuah daerah terpencil Etiopia, pada tahun 2005.
Salah seorang anggota tim peneliti, Dr James Hammond, dari Universitas Bristol mengatakan, sebagian dari Afar berada di bawah permukaan laut dan lautan hanya terpisah oleh daratan selebar 20 meter saja di Eritrea.
“Bila rekahan ini makin besar maka air laut akan masuk dan terciptalah lautan baru,” papar Hammond.
“Retakan akan makin lebar dan air masuk semakin dalam. Akhirnya dataran Somalia dan sebagian dari kawasan selatan Etiopia akan terpisah menjadi pulau baru,” tambah Hammond.
Pulau besar
Bila proses ini terus berlanjut, benua Afrika akan menjadi lebih kecil dan akan tercipta pulau yang sangat besar di Samudra India.
Tim peneliti menemukan fenomena ini pada 2005, seperti dilaporkan wartawan BBC, Matt McGrath. Ketika itu rekahan Bumi di Afar sepanjang 60 kilometer menganga dengan lebar 8 meter dalam rentang waktu hanya 10 hari.
Bebatuan panas yang berasal dari pusat bumi menyembur ke permukaan dan kemudian menciptakan rekahan itu. Letupan-letupan di bawah tanah masih terus terjadi hingga saat ini.
Para periset mengatakan, mereka sangat beruntung bisa menyaksikan kelahiran lautan baru itu karena proses itu lazimnya tersembunyi di bawah laut.
Mereka yakin informasi yang mereka dapat dari pengamatan pembentukan bumi, akan membantu para ilmuwan untuk lebih baik lagi memahami bencana alam seperti gempa dan letusan gunung berapi. [bbc]Sumber: http://www.lawupos.net/9782/samudra-baru-akan-belah-afrika/
Gempa Chile Membuat Hari Semakin Singkat
Selasa, 11 Mei 2010
Gempa Chile yang tercatat sebagai gempa terkuat ketujuh dalam sejarah ini sepertinya bakal memperpendek lama hari di Planet Bumi sampai 1,26 milidetik, kata ilmuwan peneliti Richard Gross dari Laboratorium Populasi Jet, NASA, di Pasadena, California.
"Mungkin yang lebih menarik adalah seberapa kuat gempa bumi Chile itu menggeser poros Bumi," kata para pejabat NASA, dalam pernyataan terbarunya Senin waktu AS (Selasa WIB).
Model komputer yang digunakan Gross dan rekan-rekannya untuk menentukan dampak dari dampak Gempa Chile juga mendapati bahwa gempa itu tampaknya telah menggeser poros Planet Bumi sampai kira-kira 3 inci (8 cm atau 27 milimiliardetik).
Poros Bumi tidak sama dengan kutub utara-selatan planet ini, yang berputar sekali setiap hari dengan kecepatan sekitar 1.000 mph/mil per jam (1.604 kph, km per jam).
Poros Bumi adalah poros di mana massa Planet Bumi seimbang. Poros ini bercabang dari sumbu utara-selatan Bumi sampai kira-kira 33 kaki (10 meter).
Gempa bumi dahsyat telah mengubah hari-hari di Bumi dan porosnya di masa lalu. Gempa Sumatera tahun 2004 yang berkekuatan 9,1 skala Richter, yang memicu gelombang tsunami, telah memperpendek hari sampai 6,8 mikrodetik dan menggeser poros Bumi sampai sekitar 2,76 inci (7 cm, atau 2,32 miliardetik).
Satu hari Bumi sama dengan sekitar 24 jam. Dalam hitungan tahun, lama satu hari normal berubah secara gradual sampai satu milidetik. Hal itu bertambah di musim dingin, manakala Bumi berputar lebih lambat, dan berkurang pada masim panas, kata Gross.
Gempa Chile lebih kecil dibandingkan getaran Gempa Sumatera, namun dampak Gempa Chile terhadap Planet Bumi lebih besar karena lokasinya ada di garis lintang tengah Bumi, bukan di garis khatulistiwa seperti Gempa Sumatera.
Patahan yang mengakibatkan gempa Chile 2010 juga teriris di Bumi pada sudut yang lebih curam ketimbang patahan pada Gempa Sumatera, demikian para ilmuwan NASA.
"Ini yang membuat patahan Chile lebih efektif dalam menggerakan massa Bumi secara vertikal, dan oleh karena itu lebih efektif dalam menggeser poros Planet Bumi." kata para ilmuwan NASA.
Gross menyatakan penemuannya ini didasarkan pada data awal yang tersedia pada Gempa Chile. Karena informasi mengenai karakteristik gempa semakin terbuka, prediksanya mengenai dampak Gempa Chile mungkin berubah.
Gempa Chile menewaskan lebih dari 700 orang dan menyebabkan kehancuran di seluruh penjuru negara di Amerika Selatan itu.
Beberapa teleskop raksasa di Gurun Atacama, Chile, lolos dari dampak merusakkan gempa itu, demikian Observatorium Selatan Eropa.
Sebuah instrumen satelit NASA pengukur kadar garam yang dipasang di sebuah satelit Argentina juga selamat dari guncangan gempa, demikian para pejabat JPL.
Instrumen bernama Aquarius itu berada di kota Bariloche, Argentina, yang sebelumnya sudah ditempatkan pada satelit Satelite de Aplicaciones Cientificas (SAC-D). Fasilitas integrasi satelit kira-kira berjarak 365 mil (588 km) dari episentrum Gempa Chile.
Instrumen Aquarius dirancang untuk bisa menyediakan peta global bulanan mengenai konsentrasi garam dari samudera, demi menjejak sirkulasi sekarang ini dan perannya dalam perubahan iklim. (*)
diterjemahkan jafar sidik dari space.com
Sumber: http://www.antaranews.com/berita/1267551677/gempa-chile-membuat-hari-semakin-singkat



